
Kusadari
Grand Prix Winner
Music/Lyrics Elfa Secioria/Wieke Gur.
Arrangement Elfa Secioria
Vocal Harvey Malaihollo
Pesta
Grand Prix Winner
Music/Lyrics by Hentriesa/Wieke Gur.
Arrangement by Elfa Secioria
Vocal by Elfa Singers
Album Festival Lagu Populer Indonesia 1987
Produced by Bulletin
Music has been generously provided by Aldi Wirya – www.indolawas.blogspot.com
Pesta: Elfa Singers
Final festival lagu pop indonesia di balai sidang senayan, jakarta, menobatkan harvey malaihollo sebagai penyanyi terbaik. banyak yang berpendapat, penampilan lagu pop itu banyak berubah.
SEBUAH malam yang padat tepuk tangan buat Harvey Malaihollo. Pada final Festival Lagu Pop Indonesia (FLPI), Sabtu malam awal bulan ini di Balai Sidang Senayan, Jakarta, ia merampungkan Kusadari. Lagu berirama pelan ini mengisahkan seorang yang kehilangan bagian dari bahagianya, tapi kembali menemukan kenyataan: hidup masih bisa dihadapi.
“Haruskah daku tenggelam dalam sepi/Dalam kecewa, dalam nestapa, dalam gulana, dalam perih yang panjang/Kusadari, hari-hari ‘kan terus berlalu, tanpa pernah ‘kan menunggu, walau apa ‘kan terjadi/ Kusadari hidup ini masih ada dan masih kumiliki ….
Harvey, 25 tahun, cucu dedengkot kcroncong Bram Titaley, menyadari bahwa cara tampil dan olah vokalnya justru menobatkan dia malam itu sebagai penyanyi terbaik — di antara 12 finalis.Tapi ini hanya pengulangan. Dalam FLPI 1986, ia terpilih sebagai Penampil Terbaik, lewat Seandainya Selalu Satu yang juga berirama pelan. Dan untuk sebuah festival semacam ini, teknik dan kemampuannya memang sudah di atas rata-rata. Bahkan tahun lalu, nyong Ambon yang lahir di Jakarta ini beroleh Best Singer Award pada World Popular Song Festival di Tokyo.
Kali ini, yang menyusul Harvey adalah Yopie Latul, 28 tahun. Ia bergoyang-goyang dengan ciptaan Guruh Soekarno, Kembalilan Baliku. Sedangkan Elfa’s Singer berpesta dengan irama ceria, buatan Hentriesa, tahun, dan liriknya oleh Wieke Gur.
Menoleh ke balik sukses Harvey, tahun lalu dan sekarang, memang ada upaya dari Elfa Secioria dan Wieke Gur. Mereka jelas terampil, dan karena kerja sama kedua orang inilah maka tcrcipta Seandainya Selalu Satu dan Kusadari itu. Penyusun notasi dan aransemen (Elfa) dan penulis lirik (Wieke) ini sudah saling memikul, sejak 1984.
Berdasar kerja sama itu, “Paling tidak saya sudah menulis sekitar 30 lirik,” tutur Wieke, 24 tahun. Semua itu, juga untuk ikut festival atau rekaman. Baik yang menang maupun yang tidak, lagu-lagu tadi dibuat untuk Harvey, atau Elfa’s Singer, dan pernah untuk Yopie Latul. Tapi menurut Elfa, vokal yang tersaring lewat tenggorokan Harvey justru pas untuk lagu-lagu mereka.
Keunggulan Elfa dan Wieke (lengkapnya Wiekc Gurnita Widyanti), hingga karya mereka sering masuk deretan atas pada hampir tiap festival, ada perhitungannya. “Lagu-lagu yang untuk festival memang beda dengan yang untuk rekaman,” tutur Wieke. Sebuah lagu untuk festival, katanya lagi, selain kompetitif, minimal, harus mampu memenuhi selera tiga pihak. Yaitu, unsur Departemen Penerangan (TVRI), produser kaset yang tahu selera pasar, dan para musikus. Komposisi juri memang terdiri dari ketiga unsur tersebut, paling tidak terhitung sejak 1985.
Selera pasar? Kata Wieke, yang sebentar lagi sarjana ekonomi, “Lagu itu mudah dicerna, tanpa miskin ekspresi, kelokannya tak njlimet, dan mudah diingat.” Sedangkan ukuran juri yang musikus tak susah pula diraba — lagu itu andal untuk dipertandingkan di forum internasional, seperti festival pop di Tokyo, 31 Oktober mendatang. Yang agak sulit adalah mengukur “angin” Deppen. “Sebab, yang ini bisa berbau politis. Kalau sudah begitu, susah ditebak ke mana arah bertiupnya. Lantaran abstrak,” ujar Wieke Gur dengan jujur.
Dalam kondisi dan terpaksa memenuhi kriteria seperti disebut tadi — dan belum tentu akur. satu dengan yang lain — wajah musik pop Indonesia memang sukar disimak. Memenuhi kepentingan pasar juga belum tentu jadi ukuran. Sebab, lagu-lagu unggulan dalam festival tak selalu bertahan lama di telinga publik —kecuali memang ada beberapa yang sukses, misalnya Lilin-lilin Kecil atau Damai tapi Gersang.
Jadi, yang boleh disebut pas dan tergolong populer, yang mana? Belum terjawab. Bahkan Soewanto Soewandi, seorang di antara 12 juri final FLPI 1987, masih ragu. Menurut dia, lagu yang menang di festival apa bakal diingat terus oleh pendengarnya. “Apa banyak yang bisa menyanyikannya, misalnya?” tanya Soewandi.
“Umumnya, lagu-lagu untuk festival itu bagus dari segi teknisnya, tetapi tak utuh. Itulah kelemahannya,” kata Ireng Maulana, juga seorang juri di final. Dan ini sebenarnya sudah kelihatan sejak festival begini dimulai pada 1973. Ireng pernah absen beberapa kali sebagai juri, dan mengkritik pola penjurian selama ini.
Sedangkan komposisi dewan juri masih didominasi para musikus. “Padahal, lagu yang utuh itu ukurannya tak cuma bagus pada teknik penampilannya. Tetapi harus pula enak didengarkan, dan apa laku,” ujar Ireng. “Yang tahu semua ini ‘kan orang bisnis atau produser. Lagu diciptakan tentu bukan hanya untuk festival, tapi terjual di pasar.”
Mutu? Ada isyarat dari Soewanto Soewandi, belakangan sudah muncul angin baru dari para pencipta muda. Tapi tampaknya banyak pihak, bagaimanapun, masih berpendapat bahwa meski berkali-kali ada FLPI, toh penampilan lagu pop itu belum banyak berubah. “Termasuk lagu yang menang di festival kali ini,” kata Ireng. “Selain biasa-biasa saja, belum ada gebrakan, alurnya dari tahun ke tahun sama. Hanya pengekspresiannya, di panggung, yang justru banyak menolong.” Toh, ia masih bisa yakin, hasil penjurian kali ini, “Cukup bisa mewakili untuk event tingkat internasional”.
Jadi, bukan lagunya, tetapi tergantung penyanyinya? Ini betul-betul “lagu” lama. “Karena itu, festival memang banyak perlunya,” kata Wieke. “Makin banyak festival, makin baik.”
Mohamad Cholid, Laporan Sri Indrayati & Moebanoe Moera (Jakarta)
Tempo Edisi. 24/XIIIIIII/15 – 21 Agustus 1987